Site news

 
 
Gambar dari Administrator  STAIN Kudus
Muslim Berpolitik, Oleh : Kisbiyanto
by Administrator STAIN Kudus - Wednesday, 10 September 2014, 10:42
 

Orang tidak mengerti politik, maka ia (bisa) termakan oleh politik. Demikian kata-kata bijak itu memperingatkan kita sebagai kaum muslim beragama. Bukan hanya karena politik itu "kejam” kata sebagian orang, tetapi karena politik bisa memainkan hal-hal strategis dalam berbangsa dan bernegara.

Kita, sebagai bangsa yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini baru 69 tahun (1945-2014) merdeka, yang berarti masih sangat singkat untuk tumbuh dan berkembang sebagai negara besar. Dalam konstalasi keislaman, bangsa Indonesia telah mencapai keberhasilan dengan menjadi muslim negara terbesar berpenduduk muslim. Namun, kebesaran jumlah muslim itu tidak secara otomatis berdampak pada kualitas beragama bangsa Indonesia. Dakwah dan pendidikan agama menjadi poin penting untuk menciptakan kehidupan yang agamis. Namun, politik dan kebijakan berbangsa dan bernegara juga mempunyai nilai sangat penting. Karena itu, politik yang dimainkan oleh tokoh dan kader utama bangsa ini harus mencerminkan keterpelajaran mereka. Sebagai contoh, kaum terpelajar tidak boleh apatis terhadap partai politik, termasuk agenda-agenda politik negeri ini. Setelah pemilu legislatif 9 April 2014 yang mencapai partisipasi lebih dari 70%, maka muslim terbesar di Indonesia juga sepatutnya menentukan pilihan politik 9 Juli 2014 secara cermat terhadap presiden dan wakil presiden. Kaum muslim jangan hanya menjadi penonton dalam panggung politik, tetapi menjadi pemain yang cerdas dan santun sehingga sering memenangkan percaturan. Orang muslim hendaknya belajar pada sejarah kejayaan Islam di masa lampau, yang tidak jauh dari politik dan kekuasaan.

Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemimpin juga memainkan politik kebangsaan pada masanya. Karena itu, sejarah mencatat keberhasilan gemilang kaum muslimin yang mendakwahkan agama di jazirah Arab hanya perlu waktu tidak lebih dari 23 tahun, dan memimpin mereka hingga kini. Sejarah juga mencatat keberhasilan kesultanan Turki Utsmani yang memerintah selama lebih dari 624 tahun (1299-1923 M), dengan wilayah kekuasaan meliputi tiga benua Asia, Afrika, dan Eropa. Kesultanan Turki Utsmani itu menjadi pemerintahan terbesar dalam sejarah dunia, yang menginspirasi negara-negara monarkhi konstitusional di negara barat saat ini. Sejarah juga mencatat kekuasaan Kesultanan Demak, Pajang, dan Mataram Islam di Jawa sekitar 280 tahun (1475-1755 M). Semua itu tidak luput dari kecendikiawanan dan kelihaian para pemimpin yang memainkan strategi politik di masa lalu. Wallahu a'lam.